Kerasulan Doa

Rabu, 21 Desember 2011

Setiap Jumat ke dua dalam bulan, di komunitas Sukabumi ada yang berbeda.
Ada suasana hening, lagu lembut, bacaan Sabda dan kebersamaan yang sederhana, penuh keteduhan.
Perubahan baru yang membawa kesejukan  ini adalah munculnya sebuah kerasulan doa. 
Jenis kerasulan doa  yang dipilih adalah Doa Taize. Diselenggarakan di kapel biara Ursulin pada sore hari (pkl. 17.00 - 18.00 WIB).
Umat yang hadir sangat beragam. mulai dari murid SMP Yuwati Bhakti yang katolik sampai umat Paroki yang mulai diperkenalkan dengan doa ini.
Doa Taize ini di pandu oleh para suster Ursulin, tentunya. Iringan petikan gitar oleh Pak Ram, guru agama SMP Yuwati Bhakti turut menciptakan keindahan suasana doa.
Setelah doa Taize diadakan acara mamiri (makan minum ringan) sambil ngobrol-ngobrol dengan umat yang hadir dalam doa Taize.
Lewat kerasulan doa ini, umat yang hadir, terutama kaum muda terbantu untuk masuk ke dalam keheningan batin. Harapannya adalah agar mereka mengalami perjumpaan pribadi dengan Allah. Lagu-lagu Taize yang sederhana, mudah dinyanyikan  namun sarat dengan doa kepada Tuhan membantu umat untuk memuji dan memuliakan Tuhan.

Proviciat!!! untuk para Suster Ursulin di Komunitas Sukabumi yang kembali menghidupkan semangat perjumpaan dengan Allah lewat Doa dan keheningan...

That's What Friends are FOR

Persahabatan adalah sebuah kisah yang indah
adalah seorang sahabat yang mengirimkan karyanya
begitu indah dan menyentuh
enjoy.....

Tetap SEMANGAT!

Minggu, 11 Desember 2011

Kebersamaan di jaman sekarang terasa susah karena makin penting dan dibutuhkan.
Tanpa kebersamaan, saling sapa, saling kenal, tak jarang membuat kita merasa sepi, sendiri dan tak berarti.
Lalu sibuk mencari pemenuhan di tempat-tempat lain yang tidak mendukung kualitas diri sebagai seorang relijius.
Menyadari kenyataan itu, atas dukungan para suster Pemimpin Komunitas dan Pembimbing Junior,
akhirnya para suster muda Ursulin di Jakarta berkesempatan untuk kumpul-kumpul.
Acara ini dibuat sederhana, santai namun tetap berbobot.
Dimulai dengan acara kebersamaan yang santai. Sr.Rina dan Sr. Elly sebagai noynya rumah di komunitas S.Theresia, Menteng langsung menyambut dengan senyum hangat lengkap dengan penganan ringan. Ada rujak yang segar, lemper yang mengeyangkan sampai ongol-ongol kecoklatan yang ber-goyang-dangdut kala disentuh. Menjelang pk.10.00, Sr.Ferdinanda datang dengan senyum lebar.
Doa pembuka dibawakan oleh Sr.Elly dengan lagu. Setelah itu, Sr,Ferdinanda mengundang para suster muda untuk berbagi kisah dan pengalaman hidup berkenaan dengan pertanyaan refleksi yang telah diberikan.
Sharing berjalan dengan menari. apalagi yang dibicarakan adalah menjadi mistikus di dunia seperti Santa Angela.
Setelah itu Sr.Ferdinanda menggaris-bawahi beberapa hal. Misalnya tentang pengalaman doa. Dimana sikap menerima dan percaya serta berpasrah dalam tekun merupakan hal yang penting. Beliau juga menegaskan bahwa kita perlu mengelola tiga hal: tubuh, jiwa dan roh. Mengelola tubuh sebagai bentuk pertanggung-jawaban atas kesehatan yang dianugerahkan. "Kita perlu menjaga kesehatan agar dapat melayani" katanya. Lalu beliau menegaskan pentingnya mengelola jiwa atau kesehatan psikologis. "Bukannya kita tidak berdoa, tetapi memang ada halangan dalam kejiwaan, rasa marah, kecewa, sakit hati, dan sebagainya yang perlu diolah," jelasnya. Jadi, jangan heran kalau ada suster yang berdoanya khusuk tapi di komunitas karya tetap menjadi peribadi yang garang. "Nah, itu, karena kurang mengolah jiwa,"
Beliau juga memberi nasehat seputar menjaga relasi, seni melayani umat dalam semangat Spiritualitas Gembala. Menurut Sr. Ferdinanda hidup kerasulan adalah menjadi saksi dan menjadi gembala. "kita perlu menjaga pribadi yang dipercayakan kepada kita," jelasnya.
Waktu bergulir begitu cepat hingga waktu makan siang tiba. Akhirnya pertemuan ditutup dengan ucapan terima kasih dari Sr.Melly pada Sr.Ferdinanda.
Selanjutnya semua suster makan siang bersama. Menu soto lengkap dengan ayam dan perkedel kentang yang lezat, ditutup dengan buah serta: ice cream cake! WOW...
Rasanya pertemuan ini sungguh membangkitkan semangat. Semua pesan dan nasehat seerta cinta yang diberikan oleh Sr. Ferdinanda, Sr. Helena, Sr.Rina, Sr.Lestari dan para suster yang lain di komunitas, membuat kami kembali mau terbang seperti rajawali!!!

A mercy prayer by St. Faustina:-

Selasa, 06 Desember 2011

O Lord. I want to be completely transformed into your mercy and to be your living reflection.
May the greatest of all divine attributes, that of your unfathomable mercy, pass through my heart and soul to my neighbour.
Help me, O Lord that my eyes may be merciful, so that I may never suspect or judge from appearances, but look for what is beautiful in my neighbour’s souls and come to their rescue.
Help me, O Lord that my ears may be merciful, so that I may give heed to my neighbour’s needs and not be indifferent to their pains and moaning.
Help me, O Lord that my tongue may be merciful, so that I should never speak negatively of my neighbour, but have a word of comfort and forgiveness for all.
Help me, O Lord, that my hands may be merciful and filled with good deeds, so that I may do only good to my neighbours and take upon myself the more difficult and toilsome tasks.
Help me, O Lord, that my feet may be merciful, so that I may hurry to assist my neighbour, overcoming my own fatigue and weariness.
Help me, O Lord, that my heart may be merciful so that I myself may feel all the sufferings of my neighbour.
May your mercy, O Lord, rest upon me.

Imperfection makes Perfect

Sabtu, 19 November 2011







31st Sunday in Ordinary Time – October 30

Mal 1:14; 2: 1-2; 8-10
Psalm 131
1 Th 2:7-9;13
Mt 23:1-12

We grow spiritually much more by doing it wrong than by doing it right. That might just be the central message of how spiritual growth happens; yet nothing in us wants to believe it. If there is such a thing as human perfection, it seems to emerge precisely from how we handle the imperfection that is everywhere, especially our own. What a clever place for God to hide holiness, so that only the humble and earnest will find it! Because none of us desire a downward path to growth through imperfection, seek it, or even suspect it, we have to get the message with the authority of a “divine revelation.”  So Jesus makes it into a central axiom:  the “last” really do have a head start in moving toward “first,” and those who spend too much time trying to be “first” will never get there.  Jesus says this clearly in several places and in numerous parables, although those of us seeking perfection as a mathematical concept cannot see or hear it.

Our visual meditation is Matthias Grünewald’s “Complaining Pharisee.” Black chalk on yellowish paper, cut and mounted; 1511. Staatliche Museen, Berlin

kunjungi website Ursuline Generalat di www. ursuline-ur.org)
(sumber: http://www.ursulines-ur.org/sow-20111105)

Sukacita Ganda

Hari ini saya membuka dunia maya. Seorang Pastor OSC mengirim penggalan pengalamannya. Saya terkesan. Pengalaman sederhana dengan dampak luar biasa. Sukacita Ganda
Sukacita dari menemukan yang hilang 
dan Sukacita menemukan pencerahan .
Bagi saya pribadi.... inilah sukacita kehidupan. 
(so... trpile action from small act!)

 Berikut kisahnya:
Pater Rosaryanto,OSC
Kutemukan sebuah tas kecil di bangku gereja. 
Kusimpan benda itu di tempat aman. 
Malam hari ketika waktunya orang mulai tidur, seseorang memencet bel rumah berkali-kali, terkesan tak sabar. 
Kubuka pintu dan kudapati seorang pria Italia yang tadi sore berada di gereja. Dengan penuh harap ia tanyakan apakah kutemukan tas kecilnya. 
Ketika kukatakan benda itu kusimpan di tempat yang aman, dipeluknya aku erat bagai seorang kekasih. 
Gembira luar biasa!! 
Ternyata mendapatkan kembali yang hilang seringkali jauh lebih membahagiakan daripada mempunyai yang baru.