Tampilkan postingan dengan label sharing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sharing. Tampilkan semua postingan

MOS Buat Yunior Tahun1

Senin, 08 Agustus 2011


Tiap komunitas punya kisah unik. Salah satunya adalah kisah MOS khusus buat suster yunior tahun1. Entah bagaimana, tetapi setip yunior tahun 1 yang datang ke komunitas Jl Pos, pasti dapat kejutan di minggu pertama ia atau mereka hadir. Jadi, tak heran saat Sr.Yuli tiba di komunitas Jl Pos, ia pun mendapat kejutan. MOS yang "seru" dari Tuhan. Ini kisahnya:
Tak dapat saya bayangkan, bahwa di tengah maraknya MOS(Masa Orientasi Sekolah) untuk para siswa/siswi atau pun mahasiswa, ternyata masih juga saya alami di saat awal saya memasuki masa yuniorat tahun pertama ini. Tak disangka, di saat hadir di komunitas baru (Jalan Pos), hari kedua, saya telah ditinggal oleh para suster-suster muda, karena mereka beranjak ke Tawangmangu, untuk mengikuti retret 8 hari. Bagai HP yang perlu dicash, mereka pun juga membutuhkan kesempatan untuk menge-cash spiritualitas hidup rohani mereka.

 Kembali pada kisah MOS (Masa Orientasi Susteran) yang saya alami. Meskipun hari ketiga saya menempati komunitas Jalan Pos, bertepatan dengan hari ulang tahun saya, namun sungguh menjadi kenangan yang tak terlupakan, karena di hari bahagia itu, saya pun mulai ditempa untuk sungguh siap dan mau beradaptasi dengan lingkungan baru, tak ketinggalan dengan segala tugas yang telah diamanatkan oleh Kakak-kakak Suster, yang berangkat retret. Bagai seorang anak yang memasuki sekolah baru yang asing, saya pun mulai bertanya  dan bertanya, serta melihat pembiasaan sekeliling. Saya bersyukur bahwa  Tuhan mengutus banyak orang Samaria yang baik hati, yang hadir dalam diri para Suster-suster sepuh. Mereka dengan caranya masing-masing, setia dalam  membimbing saya, setiap kali saya membutuhkan petunjuk. Meskipun saya berada  di tengah-tengah suster yang sepuh, yang mungkin kalau dihitung umur, saya  pantas menjadi cucu bagi mereka, namun semangat mereka baik dalam pelayanan  maupun hidup doa, tidak kalah dibandingkan suster yang muda. Kesetiaan  untuk hadir dalam ibadat harian, misa dan juga doa rosario, menjadikan saya  pun turut tersemangati. 

Syukur tak henti-hentinya saya panjatkan pada Tuhan,  karena pengalaman pembentukan di Novisiat sungguh telah membekali saya untuk  siap di komunitas karya yang nyata. Teringat oleh saya akan tanaman cabe  yang saat retret agung(Januari 2010) saya tanam, namun baru berbuah satu  tahun kemudian, itu pun setelah beberapa tanaman yang ada pada satu pot,  saya pisahkan. Sepertinya Tuhan telah menunjukkan suatu simbol, bahwa tanaman cabe itu pun bagai diri saya, yang semula dibentuk bersama di Novisiat bersama teman-teman seangkatan (Sr.Dominic, Sr.Melly, Sr.Sinta, Sr.Tere), dan pada saat perutusan diutus ke tiga komunitas : Juanda, Otista,  dan Jalan Pos. Menjadi suatu kesempatan yang benar-benar membahagiakan  sekaligus menantang, karena saat yang lain diutus berdua-dua, saya seorang diri  menuju ke Jalan Pos. Namun satu keyakinan yang selalu menjadi pegangan  saya"Dia yang memanggil adalah setia, maka Dia pun akan selalu setia menemani saya di mana pun saya diutus"


Sahabatku tukang sol sepatu

Minggu, 27 Maret 2011

Tekun, sabar dan bersyukur

      Setiap hari aku melewati jembatan Harmoni kalau mau berangkat kuliah karena aku menggunakan Trans Jakarta. Di bawah jembatan penyeberangan ada seorang tukang sol sepatu (bapak tua berusia hampir 70 tahun). Otomatis setiap kali aku melihatnya, aku ber-'say hello';  bahkan beberapa kali aku memperbaiki sol sepatu kepadanya. 
      Suatu kali, aku memberikannya sekotak nasi yang aku dapatkan dari sekolah tempatku berkarya. Nah sejak itu, kami selalu saling sapa kalau aku lewat di depannya. Yang membuatku merasa kurang enak adalah caranya menyapaku; tepatnya saat aku lalu dihadapannya. Ia akan menyapaku dengan membungkukkan badang dengan lengan di dadanya sambil tersemnyum penuh kesukaan; seolah-olah aku ini adalah Sakramen Maha Kudus.
Apa lagi kalau ia melihatku dari kejauhan, maka dia akan mengatur/merapikan sepatu-sepatu yang berserakan di depannya. Biasanya yang lewat duluan adalah Sr. Beti karena ia kuliah lebih awal dari aku. Maka ketika aku lewat Bapak itu akan berkata, "Bu, tadi sudah lewat, koq sekarang lewat lagi?". Aku menjawab, "oh...itu beda orang Pak." Dia terheran-heran karena bagi dia mungkin kami sama. 

Pernah 1 minggu yang lalu aku tidak melihatnya selama beberapa hari. Saat ia ada, aku pun bertanya, "Dari mana Pak koq beberapa hari tak kelihatan?" Ada rasa kehilangan juga. "Itu neng..abis pulang kampung dari Bandung" dengan logat sundanya yang medok. Suatu sore aku sengaja tidak menyapanya karena dia sedang asyik ngobrol dengan temannya, aku hanya lewat saja. Ternyata dia lihat bayanganku dan dengan spontan dia berteriak,"Neeeeng...berangkat???" Aku hanya melambaikan tangan sambil bergegas berlalu. Aku merasa dia sudah jadi sahabatku di saat aku tidak memperdulikan semua orang yang aku jumpai di jalan, masih ada orang yang menyadarkanku bahwa masih ada yang peduli padaku; dan bisa dikatakan Bapak itu pun minta dipedulikan. Mengajarkanku bahwa masih ada orang yang perhatian. 
Selama ini kalau aku jalan seperti kilat tidak peduli kiri dan kanan yang penting aku sampai di halte busway dan cepat dapat bis. 
Terimakasih sahabatku, Bapak sol sepatu! 
Senyum dan keramahanmu menyadarkanku. 
Sapaanmu begitu tulus.

"Neng, brangkat????"

(Sharing dari Sr. Entin, OSU/ Komunitas Santa Maria Juanda - Jakarta)

Misi Bunuh Diri Pekerja Reaktor Nuklir

Jumat, 25 Maret 2011

para pekerja di garis depan reaktor nuklir di Jepang

PESAN-PESAN memilukan dikirim para pekerja yang mencoba untuk mencegah bencana nuklir skala penuh di pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) yang bermasalah di Jepang. Pesan-pesan itu mengungkapkan, mereka tahu betul bahwa mereka sedang menjalankan misi bunuh diri.

Seorang dari mereka, yang disebut sebagai Fukushima Fifty, mengatakan, mereka menerima dengan tabah nasib mereka seperti suatu hukuman mati. Seorang yang lain, setelah menyerap dosis radiasi yang hampir mematikan, mengatakan kepada istrinya, "Tolong terus lakoni hidup dengan baik, untuk sementara saya tidak bisa pulang."

Tingkat radiasi di pintu masuk PLTN itu berada pada level yang akan langsung membunuh para pekerja atau menyebabkan mereka menderita penyakit mengerikan dalam sisa hidup mereka. Para ahli mengatakan, pakaian kedap udara yang mereka kenakan hanya sedikit bisa menghentikan paparan radiasi.

Harian Inggris, The Dailymail, akhir pekan lalu melaporkan, kelompok Fukushima Fifty (Limapuluh Orang Fukushima) itu tetap bertahan setelah 700 rekan mereka melarikan diri saat tingkat radiasi menjadi terlalu berbahaya. Identitas mereka belum terungkap, tetapi para ahli mengatakan, mereka sepertinya para teknisi garis depan dan petugas pemadam kebakaran yang sangat mengetahui pembangkit itu.

Diperkirakan, kebanyakan dari mereka adalah laki-laki paruh baya yang menjadi sukarelawan karena mereka sudah memiliki anak—pekerja muda mungkin akan menjadi tidak subur oleh dosis radiasi yang tinggi. Mereka disebut Fukushima Fifty, tetapi sesungguhnya kelompok itu berjumlah 200 orang yang bekerja empat shift secara bergiliran. Mereka bekerja untuk menghidupkan kembali sistem pendingin reaktor Fukushima yang rusak akibat hantaman tsunami.

Jumat lalu, pesan-pesan menyayat hati mereka kepada keluarganya dipublikasikan televisi nasional Jepang yang telah mewawancarai kerabat mereka. Seorang anggota keluarga mereka berkata, "Ayah saya masih bekerja di pembangkit itu. Dia mengatakan, dia menerima nasibnya, seperti sebuah hukuman mati." Seorang perempuan mengatakan, suaminya yang berada di pembangkit itu terus bekerja dan sepenuhnya menyadari ia sedang dibombardir radiasi.

Perempuan yang lain mengatakan, ayahnya yang berusia 59 tahun secara sukarela mengajukan diri untuk tugas di Fukushima. Ia menambahkan, sebagaimana dikutip Dailymail, "Saya mendengar bahwa ia secara sukarela meskipun ia akan pensiun dalam waktu setengah tahun dan mata saya jadi penuh dengan air mata. Di rumah, ia tidak tampak seperti seseorang yang bisa menangani pekerjaan besar. Tapi hari ini, saya benar-benar bangga padanya. Saya berdoa agar dia kembali dengan selamat."

Gadis lain yang ayahnya bekerja di reaktor Fukushima itu berkata, "Saya tidak pernah melihat ibu saya menangis begitu kencang." Dia menulis di Twitter, "Orang-orang di pembangkit itu berjuang, mengorbankan diri mereka untuk melindungi Anda. Semoga Ayah kembali dalam keadaan hidup."

Dari semua mereka yang bertahan di pembangkit itu, lima diantaranya diketahui meninggal dan dua hilang. Sedikitnya 21 orang lainnya terluka. Seorang pekerja perempuan yang mengaku bertugas di reaktor Fukushima Nomor 2 saat tsunami melanda telah mem-posting di akunnya di internet tentang apa yang terjadi.

Michiko Otsuki, yang sejak saat itu mencari perlindungan, menulis pada sebuah situs jejaring sosial Jepang yang diterjemahkan The Straits Times sebagai berikut: "Di tengah suara alarm tsunami pada pukul 03.00 pada malam hari ketika kami tidak bisa melihat ke mana kami pergi, kami terus bekerja untuk memulihkan reaktor-reaktor di tempat kami, yang berada tepat di tepi laut, dengan kesadaran bahwa ini bisa berarti kematian. Mesin yang mendinginkan reaktor itu betul-betul berada di tepi laut, dan hancur oleh tsunami. Setiap orang bekerja mati-matian untuk mencoba memulihkannya."

"Memerangi kelelahan dan perut kosong, kami menyeret diri kembali bekerja. Ada banyak yang belum dapat berhubungan dengan anggota keluarga mereka, tetapi menghadapi situasi ini dan bekerja keras."
Dr Michio Kaku, seorang ahli fisika teoritis, mengatakan kepada jaringan televisi AS, ABC, bahwa situasi telah memburuk dalam hari-hari terakhir. "Kami berbicara tentang para pekerja yang masuk ke reaktor itu mungkin sebagai misi bunuh diri," katanya.

Michael Friedlander, yang telah bekerja di manajemen krisis di pembangkit nuklir yang sama di Amerika, menambahkan, para pekerja mungkin makan ransum militer dan minum air dingin untuk bertahan hidup. "Di tengah rasa dingin, gelap, dan Anda melakukan hal itu sambil mencoba untuk memastikan Anda tidak mencemari diri Anda saat Anda sedang makan," katanya.

"Saya dapat memberitahu Anda dengan kepastian 100 persen bahwa mereka benar-benar berkomitmen untuk melakukan apa pun yang secara manusiawi perlu untuk membuat pembangkit itu berada dalam kondisi aman, bahkan dengan risiko hidup mereka sendiri." 


(sharing berita dari Pak Jati, IPEKA)
http://m.kompas.com/news/read/data/2011.03.21.07591631


Pemeriksaan radiasi nuklir

Aku Beda

Kamis, 24 Maret 2011


Sepulang kuliah aku sangat lelah. Aku melihat jam tanganku ketika aku sampai di rumah.... ohhhh sudah jam 21.10. Aku langsung menuju tempat makan dimana biasanya aku disimpankan makanan oleh suster-susterku. Tadi adalah mata kuliah speaking. Sangat enjoy di kelas ini karena dosennya sangat menarik dalam mengajar. Hari ini kami praktek bagaimana mewawancara dan diwawancara. Kami dibagi tugas berpasangan (berdua-dua). Di tengah-tengah kuliah biasanya kami ada break time selama 10 menit. Saat break ini biasanya kami boleh ke toilet, makan minum apa yang dibawa, dll. Kali ini ada suatu topik yang dibahas saat break yaitu teman-temanku membahas tempat makan untuk besok malam karena ada seorang teman di kelas yang berulang tahun. Mereka memutuskan untuk makan di Plaza Semanggi dan aku tidak ikut ambil bagian dalam rembukan ini. Seorang teman mengabsen siapa saja yang bisa hadir dan tidak pada acara pesta tersebut. Semuanya mengacungkan tangan kecuali aku. Teman-teman mengarahkan pandangan padaku sambil berkata, "Suster, ayolah sekali-sekali gabung makan enak bersama kami." Aku hanya tersenyum tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Memang dalam hal ini aku tidak pernah bergabung bersama teman-teman bila ada yang berulang tahun dan mereka rayakan di luar. Rupanya dari sikap diamku mereka mengerti, siapakah aku ini; aku tidak sama dengan mereka, aku "beda". Tidak mudah hidup bersama orang-orang muda di hari gini dan di kota sebesar Jakarta dengan segala iming-iming yang selalu di depan mata. Namun dari peristiwa-peristiwa seperti inilah aku diuji dan dimurnikan bahwa aku harus memberi kesaksian bahwa aku "tidak sama" dengan mereka. Aku adalah seorang suster yang mestinya memberi teladan dan sinar yang lain.
(Sharing dari Sr. Entin, OSU/Komunitas St.Maria-Juanda, Jakarta)

Tuhan.... Aku Minta Tanda

Selasa, 22 Maret 2011



Hari Rabu 16 Maret aku kuliah pagi. masuk jam 07.00. Sesudah komuni aku cepet-cepet keluar, supaya gak ngantri di halte bus.
Melihat aku jalan cepat-cepat, Pak Miswan berkata: “Mau saya antar ke halte, suster?”
Aku jawab, “Tidak.pak. Terima kasih. masih pagi kok....
Tiba di halte Juanda pkl 06.22. Antrian sudah panjang. Bus pertama lewat.... “Harmoni!” teriak kondektur. Aku diam saja karena gak bisa lewat. Orang penuh sesak. Bus ke dua lewat... ketiga... Orang di halte tidak juga berkurang. Jam digital di halte Juanda menunjukkan anggka 06.30. Bus jurusan Kalideres lewat. Banyak orang yang naik bus ini. Antiran di depanku berkurang sehingga aku jadi orang yang berdiri di antrian tunggu paling depan.
Aku menunggu bus yang ke arah Senayan, supaya bisa langsung Juanda-Bendungan Hilir, tanpa ke Halte Harmoni dulu. Beberapa bus yang ke halte Harmoni aku biarkan lewat begitu saja. Jam sudah menunjukkan pkl 06.45. Lima belas menit lagi kuliah mulai. Perjalanan dari halte Juanda ke Atmajaya 35 menit, belum termasuk antri di halte Harmoni. Aku berdoa... TUHAN... JANGAN SAMPAI AKU TERLAMBAT...... BERI AKAU KEAJAIBAN....

PLETAKK!!!!! kepalaku dijitak. Aku mencari sumber usil ini. Tuhan berdiri di belakangku. Kata-Nya: KEAJAIBAN ?? Aku sudah memberi kesempatan.... Tawaran dari Pak Miswan, DITOLAK. Mendatangkan bus yang ke halte harmoni dan sudah berhenti TEPAT di depanmu, kakimu tidak melangkah juga. Mengingatkan bahwa menit terus berlalu, kau hanya bilang tunggu... KEAJAIBAN apa lagi yang kau harapkan?.. Bus yang ke arah Senayan itu sudah lama lewat! Dari Halte Harmoni banyak bus yang lewat Bendungan Hilir. DIJAMIN, PASTI ada. Mengapa masih juga bertahan menunggu yang tidak pasti?”

“Iya, Tuhan.... aku akan berhitung sampai 10. Jika ada bus yang ke harmoni aku akan naik,” jawabku.
Aku mulai berhitung. Satu.... dua.... tiga.... empat.... lima.... enam.... Nah.... bus datang dan aku naik. Di Harmoni langsung cari jurusan Blok M. WAHHH.... kok gak ada antrian?? Biasanya jam segini sudah seperti ular yang panjaanggg.....dan bus yang akan membawaku sudah menunggu. ..
Menit terus berlalu. Pukul 07.20 aku berdiri di depan kelas. HUH.... aku menarik nafas.( dari tadi rasanya aku lupa bernafas, saking takut terlambat) Kubuka pintu ruang kuliah. Dan.... ibu dosen belum datang. Terimakasih... Tuhan...

Dari peristiwa ini aku disadarkan kembali bahwa keajaiban Tuhan hadir dari rutinitas, yang kadang terasa membosankan. Dan tanda-tanda pertolongan Tuhan datang lewat hal-hal yang sederhana. Yang aku butuhkan hanya kepekaan untuk melihat tanda-tanda itu.
Sharing dari Sr. Siti, OSU

Gambaru

Senin, 21 Maret 2011

Dear Friends.

Ini ada tulisan bagus dari mahasiswi yg sedang kuliah di Jepang. Semoga memberikan inspirasi
Semoga bermanfaat! Kita dapat belajar dari semangat saudara-saudara kita dari Jepang. Mari kita "Bertekun dan Maju Sampai Akhir".

Salam,
Sr. Christine Hardisubroto,OSU



------------ --------- ---------
Say YES to GAMBARU!

By Rouli Esther Pasaribu

Ada satu kata yang selalu saya dengar di Jepang: motto gambattekudasai (ayo berjuang lebih lagi), taihen dakedo, isshoni gambarimashoo (saya tau ini sulit, tapi ayo berjuang bersama-sama), motto kenkyuu shitekudasai (ayo bikin penelitian lebih dan lebih lagi).

Gambaru itu bukan hanya sekadar berjuang2 cemen gitu2 saja yang kalo males atau ada banyak rintangan, ya udahlah ya...berhenti aja. Menurut kamus bahasa jepang sih, gambaru itu artinya : "doko made mo nintai shite doryoku suru" (bertahan sampai kemana pun juga dan berusaha abis-abisan)

Gambaru itu sendiri, terdiri dari dua karakter yaitu karakter "keras" dan "mengencangkan". Jadi image yang bisa didapat dari paduan karakter ini adalah "mau sesusah apapun itu persoalan yang dihadapi, kita mesti keras dan terus mengencangkan diri sendiri, agar kita bisa menang atas persoalan itu" (maksudnya jangan manja, tapi anggap semua persoalan itu adalah sebuah kewajaran dalam hidup, namanya hidup memang pada dasarnya susah, jadi jangan ngarep gampang, persoalan hidup hanya bisa dihadapi dengan gambaru, titik.).

Terus terang aja, dua tahun saya di jepang, dua tahun juga saya tidak ngerti; alasan orang Jepang menjadikan gambaru sebagai falsafah hidup mereka. Bahkan anak umur 3 tahun seperti Joanna pun sudah disuruh gambaru di sekolahnya; misalnya mengenakan baju di musim dingin mesti yang tipis2 biar tidak manja terhadap cuaca dingin, di dalam sekolah tak boleh pakai kaos kaki karena kalau telapak kaki langsung kena lantai itu baik untuk kesehatan,

Sakit sedikit, hanya bersin-bersin atau demam 37 derajat tidak perlu bolos sekolah, tetap dihimbau masuk dari pagi sampai sore, dengan alasan, anak akan kuat menghadapi penyakit jika ia melawan penyakitnya itu sendiri. Akibatnya, kalau naik sepeda di tanjakan sambil bonceng Joanna, dan napasku kembang-kempis, kecapean, otomatis Joanna ngomong : Mama, gambare! mama faitoooo! (mama ayo berjuang, mama ayo fight!). Pokoknya jangan manja sama masalah deh, gambaru sampe titik darah penghabisan it's a must!

Saya benar2 baru mulai sedikit mengerti mengapa gambaru ini sangat penting dalam hidup, adalah setelah terjadi tsunami dan gempa bumi dengan kekuatan 9.0 di jepang bagian timur. Aku tahu, bencana alam di indonesia seperti tsunami di aceh, nias dan sekitarnya, gempa bumi di padang, letusan gunung merapi....juga bukanlah hal yang mudah untuk dihadapi. Tapi, tsunami dan gempa bumi di jepang kali ini, jauuuuuh lebih parah dari semuanya itu. Bahkan, ini adalah gempa bumi dan tsunami terparah dan terbesar di dunia. Wajaaaaaaar banget kalo kemudian pemerintah dan masyarakat Jepang panik kebingungan karena bencana ini. Wajaaaaar banget kalau mereka kemudian mulai merasa galau, menangis habis-habisan, tidak tahu harus bagaimana. Bahkan untuk skala bencana sebesar ini, rasanya bisa "dimaafkan" jika stasiun-stasiun TV memasang sedikit musik latar ala lagu-lagu ebiet dan membuat video klip tangisan anak negeri yang berisi wajah-wajah korban bencana yang penuh kepiluan dan tatapan kosong tak punya harapan. Bagaimana tidak, tsunami dan gempa bumi ini benar-benar menyapu habis seluruh kehidupan yang mereka miliki. Sangat wajar jika kemudian mereka tidak punya harapan.

Tapi apa yang terjadi pasca bencana mengerikan ini? Dari hari pertama bencana, aku memasang saluran tv dan menunggu lagu-lagu ala ebiet diputar di stasiun TV. Sibuk mencari di mana rekening dompet bencana alam. Video klip tangisan anak negeri juga saya tunggu2. Tiga unsur itu (lagu ala ebiet, rekening dompet bencana, video klip tangisan anak negeri), sama sekali TIDAK disiarkan di TV. Jadi yang ada apaan dong? Ini yang saya lihat di stasiun2 TV :

1. Peringatan pemerintah agar setiap warga tetap waspada
2. Himbauan pemerintah agar seluruh warga jepang bahu membahu menghadapi bencana (termasuk permintaan untuk menghemat listrik agar warga di wilayah tokyo dan tohoku tidak terlalu lama terkena mati lampu)
3. Permintaan maaf dari pemerintah karena terpaksa harus melakukan pemadaman listrik terencana
4. Tips-tips menghadapi bencana alam
5. nomor telepon call centre bencana alam yang bisa dihubungi 24 jam
6. Pengiriman tim SAR dari setiap perfektur menuju daerah-daerah yang terkena bencana
7. Potret warga dan pemerintah yang bahu membahu menyelamatkan warga yang terkena bencana (sumpah sigap banget, nyawa di jepang benar-benar bernilai banget harganya)
8. Pengobaran semangat dari pemerintah yang dibawakan dengan gaya tenang dan tidak emosional : mari berjuang sama-sama menghadapi bencana, mari kita hadapi (government official pakai kata norikoeru, yang kalo diterjemahkan secara harafiah : menaiki dan melewati) dengan sepenuh hati
9. Potret para warga yang terkena bencana, yang saling menyemangati : *ada yang mencari istrinya, belum ketemu, wajahnya sudah sangat galau, tapi tetap tenang dan tidak emosional, disemangati nenek2 yang ada di tempat pengungsian : gambatte sagasoo! kitto mitsukaru kara. Akiramenai de (ayo kita berjuang cari istri kamu. Pasti ketemu. Jangan menyerah)
*Tulisan di twitter : ini gempa terbesar sepanjang sejarah. Karena itu, kita mesti memberikan usaha dan cinta terbesar untuk dapat melewati bencana ini; Gelap sekali di Sendai, lalu ada satu titik bintang terlihat terang. Itu bintang yang sangat indah. Warga Sendai, lihatlah ke atas.

Sebagai orang Indonesia yang tidak pernah melihat cara penanganan bencana ala gambaru seperti ini, saya bener-bener merasa malu dan di saat yang bersamaan : kagum dan hormat banget sama warga dan pemerintah Jepang. Ini negeri yang luar biasa, negeri yang sumber daya alamnya sangat terbatas, negeri yang alamnya keras, tapi bisa maju luar biasa dan punya mental sekuat baja, karena : falsafah gambaru-nya itu. Bisa dibilang, orang-orang jepang ini tidak punya apa-apa selain GAMBARU. Dan, gambaru udah lebih dari cukup untuk menghadapi segala persoalan dalam hidup.

Benar bahwa kita mesti berdoa, kita harus pasrah pada Tuhan. Hanya, mental yang apa-apa "nyalahin" Tuhan, bilang2 ini semua kehendakNya, Tuhan marah pada umatNya, Tuhan marah melalui alam maka tanyalah pada rumput yang bergoyang... ..I guarantee you 100 percent, selama masih mental ini yang berdiam di dalam diri kita, sampai kiamat sekalipun, saya rasa bangsa kita tidak akan bisa maju. Kalau ditilik lebih jauh, "menyalahkan" Tuhan atas semua bencana dan persoalan hidup, sebenarnya adalah kata lain dari tidak berani bertanggungjawab terhadap hidup yang dianugerahkan Sang Pemilik Hidup. Jika diperjelas lagi, tidak berani bertanggungjawab itu maksudnya : lari dari masalah, tidak mau menghadapi masalah, main salah2an, tidak mau berjuang dan baru ketemu sedikit rintangan saja sudah nangis manja.

Maka, mulai hari ini, jika aku mendengar kata gambaru, saya akan berucap dengan rendah hati : Indonesia jin no watashi ni gambaru no seishin to imi wo oshietekudasatte, kokoro kara kansha itashimasu. Nihon jin no minasan no yoo ni, gambaru seishin wo mi ni tsukeraremasu yoo ni, hibi gambatteikitai to omoimasu. (Saya ucapkan terima kasih dari dasar hati saya karena telah mengajarkan arti dan mental gambaru bagi saya, seorang Indonesia. Saya akan berjuang tiap hari, agar mental gambaru merasuk dalam diri saya, seperti kalian semuanya, orang-orang Jepang).

(tulisan ini telah diedit seperlunya tanpa menghilangkan/mengurangi makna aslinya-red)

Doa Untuk Korban di Jepang

Rabu, 16 Maret 2011

marilah kita berdoa untuk korban gempa dan gelombang tsunami di Jepang.
pada 11 maret, Jepang dihantam gempa 8,9M dan memicu tsunami disana.
Marilah kita berdoa bagi para korban dan jiwa-jiwa yang pulang ke ruma Bapa di surga.
Little Hope from GOD

Doa untuk Korban di Jepang
Allah yang berbelas kasih dan penuh kasih,
pemberi Hidup dan Cinta,
dengarkanlah doa kami
dan biarkan jeritan kami sampai kepadaMu.
Kami menangis bersama umatMu di Jepang
Kami mendengar tangisan anak-anak yang kehilangan orangtua mereka dan orangtua yang kehilangan anak-anak mereka
Kami merasakan keputus-asaan dari mereka yang masih mencari orang-orang yang mereka kasihi
kami berduka atas keheningan yang tercipta dari desa yang hilang
kami melihat kehancuran
kami tak mampu menanggung semua ini sendirian
Hati kami terdiam, pikiran kami buntu
Buatlah tangan kami tidak berhenti, suara kami tak bisu
Allah pemilik jagad raya
Bukalah hati kami untuk merasakan cintaMu
Kuatkan kami untuk mau terus memberi
Ikatkanlah kami dengan tali kasih persaudaraan, perempuan pun laki-laki
Tenangkan dan sembuhkan yang sakit, yang menderita dan yang hilang
Kuatkan para sukarelawan yang menolong dan para medis
ketuklah hati para pemimpin dunia, pemerintahan dan orang-orang yang punya kekuasaan untuk menolong
Bukalah jalan damai dan kersajama melalui tragedi ini
Dalam namaMu yang berbelas kasih dan menyembuhkan dan penuh cinta, kami berdoa
Amin

Let us pray for the victims of Japan earthquake and tsunami waves. An 8.9 earthquake struck Japan on March 11th, triggering tsunami tidal waves on the northeast part of Japan. Let us pray for all those victims and also for the souls who departed us.
Prayer for Earthquake And Tsunami Victims:-
Most merciful and compassionate God,
Giver of Life and Love,
hear our prayers
and let our cries come unto you.
We weep with your people in Japan
We hear the cries of orphaned children and laments of bereaved parents
We feel the desperation of those searching for loved ones
We behold the silence of vanished villages.
We see the devastation.
We are overwhelmed by the enormity of it all.
Our hearts are hushed, our minds are numb.
Let not our hands be stopped, our voices dumb.
God of the universe,
Open our hearts to feel your compassion
Galvanize in us the act of continued giving
Bond us to our sisters and brothers in need
Comfort and heal the injured, the bereaved, the lost
Strengthen the aid workers and medical personnel
Bolster the resolve of governments and those with power to help
Open through this tragedy pathways to partnerships and peace
In Your Name of mercy and healing and compassion we pray,
Amen.

Sumber/source:
www.Turnbacktogod.com

Kereta KRL

Minggu, 06 Februari 2011


Jika ada waktu cobalah naik kereta KRL ekonomi. Murah meriah, alat transportasi pilihan utama masyarakat kelas menengah ke bawah.
Khusus untuk rute Tanah Abang-Serpong dan sebaliknya, sekali naik bayarnya cuma Rp. 1500! Kedatangan dan keberangkatannya menurut jadwal yang sudah ditentukan. Tapi..yah..nyatanya seringkali terlambat. Daripada ngomel-ngomel lebih baik melatih kesabaran. Sabaarrr....

Kalau kereta tiba rasanya lega bukan main. Ayo, cepat naik! Kereta tak berhenti lama. Di dalam kereta, banyak pedagang asongan. Macam-macam dagangannya. Ada donat seharga seribu, penjualnya bahkan mencantumkan nomor HP-nya kalau ada pembeli yang mau pesan lebih banyak. Ehm...cara berdagang yang kreatif. Ada menjual buah-buahan, minuman, asesori rambut, mainan anak-anak. Tentu tidak ketinggalan, ada pengamen tuna netra.

Penumpangnya tidak hanya manusia tetapi juga bebek! Bebek-bebek dimasukan ke dalam empat karung putih bekas beras. Mereka berbaring saja. Satu karung bisa diisi 10-12 ekor. Karung tersebut diberi lubang-lubang supaya kepala bebek bisa menjulang keluar dan bernapas dengan lega. Oleh pemiliknya mereka naik dari Stasiun Kebayoran Lama dan turun di Stasiun Pondokranji. Biarpun bebek-bebek bisa bernapas lega tetapi begitu karung-karung diangkat...lantai kereta menjadi basah. Ya ampun...mereka keringatan kepanasan!

Toh, naik kereta tetap mengasyikkan. Dengan melihat aneka ragam penumpang menyadarkan diri untuk melihat bahwa semua sama di mata Allah.

Tuhan Tahu

Selasa, 18 Januari 2011

Semua ada waktunya..........
Semua indah pada waktunya..........
TUHAN tak akan terlambat........... Juga tak akan lebih cepat......
TUHAN TAHU
Beberapa Hal Yang Dapat Mendorongmu Untuk Tetap Bertahan!
Jika kau merasa lelah dan tak berdaya dari usaha yang sepertinya sia-sia......
Tuhan tahu betapa keras engkau sudah berusaha.
Ketika kau sudah menangis sekian lama dan hatimu masih terasa pedih.....
Tuhan sudah menghitung air matamu.
Jika kaupikir bahwa hidupmu sedang menunggu sesuatu
Dan waktu serasa berlalu begitu saja......
Tuhan sedang menunggu bersama denganmu.
Ketika kau merasa sendirian
dan teman-temanmu terlalu sibuk untuk menelpon.
Tuhan selalu berada disampingmu.
Ketika kau pikir bahwa kau sudah mencoba segalanya
Dan tidak tahu hendak berbuat apa lagi.....
Tuhan punya jawabannya.
Ketika segala sesuatu menjadi tidak masuk akal dan kau merasa tertekan.......
Tuhan dapat menenangkanmu.
Jika tiba-tiba kau dapat melihat jejak-jejak harapan.......
Tuhan sedang berbisik kepadamu.
Ketika segala sesuatu berjalan lancar
dan kau merasa ingin mengucap syukur......
Tuhan telah memberkatimu.
Ketika sesuatu yang indah terjadi dan kau dipenuhi ketakjuban......
Tuhan telah tersenyum padamu.
Ketika kau memiliki tujuan untuk dipenuhi dan mimpi untuk digenapi.......
Tuhan sudah membuka matamu dan memanggilmu dengan namamu.
Ingat bahwa dimanapun kau ......atau kemanapun kau menghadap.....
TUHAN TAHU.

Salam,
Sr. Christine Hardisubroto,OSU

Teologi (Strawberry)Tubuh

Seorang sahabat lama, Trisno S. Sutanto, menulis:
Breaking News: Bagi yang suka nyari blue film, jangan gunakan blackberry karena hasilnya black, tapi pakailah blueberry :)))
Terasa lucu dan menohok. Apalagi bagi para suster Yunior Ursulin yang baru saja merenungkan panggilan manusia yang kudus dan indah melalui perspektif Paus Paulus Yohanes II dalam Theology of the Body (TOB). Dimana belliau melalui Sr. Lucy mengundang para suster muda Ursulin untuk semakin maju dalam menguduskan hidup agar sesuai dengan rencana Allah.
 
Dan itu bukan perkara gampang. Mengubah mental lama menjadi baru, yaitu menghargai apa yang memang berharga tapi sudah dilupakan yaitu TUBUH. Selama ini tubuh kerap digunakan untuk sarana rekreasi saja atau dieksploitasi demi sejumlah uang. Sehingga bukan berita baru jika terjadi penjualan perempuan dalam berbagai lini usia. 
Namun Paus Paulus Yohanes II yakin bahwa semua ini dapat kembali diubah ke habitat aslinya yaitu tubuh sebagai bait Allah. Beliau berkampanye selama puluhan tahun dan didorong oleh banyak orang yang sepakat dengannya. Untuk itulah,  sr. Lucy kemudian  mengungkapkan pemikiran itu dengan ringkas dan padat yang menyampaikan bahwa: "Kita, perempuan, diciptakan sebagai THE CROWN OF THE CREATION".
Dengan menyadari bahwa diri kita berharga, diri setiap orang berharga, maka secara alamiah kita tidak akan memperlakukan diri kita seenaknya. Kita akan memberi perhatian sesuai dengan kebutuhan. Menghargai dengan tindakan nyata yang sederhana, mulai dari memilih makanan yang sehat, istirahat yang cukup, memberi waktu untuk olahraga dan mengisi diri dengan doa serta meditasi.
Lalu Sr.L:ucy juga memberi langkah-langkah parktis untuk mengisi tangki-cinta. Misalnya dengan mengungkapkan perhatian atau memberikan semangat melalui kata, tepukan di bahu sampai memberikan sesuatu yang menyenangkan seperti sepotong kartu. Selain itu kita juga bisa memberikan waktu-berharga atau prime time kita pada orang lain. Dengan mengisi tangki-cinta, menurut Sr.Lucy, kita bisa menjadi pribadi yang sadar bahwa kita berharga sekaligus mampu menghargai orang lain.
Akhir kata, kita yang tidak punya blackberry juga ndak perlu ber-blueberry-ria. kita cicipi strawberry aja... 
 
untuk info lebih lanjut silahkan membawa:
http://www.theologyofthebody.net/
http://en.wikipedia.org/wiki/Theology_of_the_Body
http://www.tobforteens.com/

 

Ayo Bernyanyiii...!

Rabu, 05 Januari 2011

Banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan dan rutinitas yang dijalankan setiap hari dapat membuat siapapun jenuh dan suntuk. Tak terkecuali dengan suster-suster. Kalau begitu bagaimana supaya api semangat dapat terus menyala di dalam hati?

Sr. Siti dan Sr. Reta biasa mendengarkan lagu. Ini salah satu caranya. Beruntung sekali jika menemukan yang pas di hati. Tidak melulu lagu rohani lho.

aku mau hidup denganMu

aku mau mati pun karenaMu
aku mau di sisa waktuku bersamaMu...

(Kaulah Hidup dan Matiku-Naff)

Dapat membangkitkan kesetiaan pada Dia. Hidup pun jadi lebih berarti.
Dan...coba bayangkan Dia memujimu...karena kamu mau setia.

kau cantik hari ini
dan Aku suka
kau lain sekali
dan Aku suka

(Kau Cantik Hari Ini-Lobow)

Hari Terakhir LIBUR

Senin, 03 Januari 2011

Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat.
NATAL sudah lewat
Terompet TAHUN BARU sudah disimpan
Pohon NATAL sudah dibongkar
Hiasan hijau merah emas tak tampak lagi

Hari ini adalah hari terakhir liburan bagi komunitas Jl.Pos
bahkan anggota komunitas kami seperti Sr.Franceco dan Sr.Ayda sudah mulai aktifitas di S.Ursula BSD
demikian pula dengan rekan kerja administrasi di S.Ursula Jakarta. Semua sudah mulai hadir.
geliat semangat berkarya mulai merayap.
Sr.Indri sibuk di perpustakaan
Sr.Siti melenggang ke Universitas Atma Jaya memulai masa kuliah semester padat
Sementara Sr. Reta bersibuk ria dengan gedung TB-TK S.Ursula yang masih berdebu
Tak ketinggalan Sr. Marisa ikut mempersiapkan gedung Kursus Bahasa Inggris yang bakal dipakai dalam hitungan beberapa pekan ke depan.

Terima kasih ya Bapa, untuk waktu LIBUR
sehingga kami semua dapat kembali berkarya dengan semangat baru!

Pembaharuan Kaul



Di pagi yang cerah ini
sebagai anggota komunitas dan pribadi
kami
mengungkapkan kembali
ungkapan serah setia hidup bakti
dihadapan DIA dalam sebuah janji


Terima kasih atas panggilan ini
Engkau menawarkan dan menawarkannya lagi
sebuah ikatan KASIH hanya demi kami
karena hanya dengan jalan ini
Engkau menarik kami kembali


Maka dalam kecerahan mentari
kami, di Jl.Pos mengumandangkan lagi 
baris-baris janji
semoga kami setia menapaki






PEMBAHARUAN KAUL:
Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus
menjawab kasih setia-Mu
kami membaharui hidup bakti
yang telah kami ikrarkan kepada-Mu:
Kaul keperawanan, kemiskinan dan ketaatan
dalam Uni Roma Ordo Santa Ursula

Kami Mohon bantuan rahmat-Mu
agar kami semakin setia,
memancarkan kegembiraan dan
menjadi tanda cinta kasih-Mu
bagi sesama.
Amin





A Poem For YOU

When things are confused
I discuss them with you
until they make sense

When something good happens
you are the first person I tell
so I can share my happiness

When I don't know what to do in a situation
I ask your opinion
and weigh it heavily with mine

When I am lonely
I call you
because I never feel alone with you...

When I have a problem
I ask for your help
because your wiseness helps me to solve it

When I want to have fun
I want to be with you
because we have such a great time together

When I want to talk to someone
I always talk to you
because you understand me

When I want the truth about something
I call you
because you are so honest

It is so essential
to have you in my life
Thank you for being my friend
Thank you for being my love





Start with ending

Kamis, 30 Desember 2010

This will be our first story.
the story which start at end of this year

So, at the end of this year,
we as a community went to Samudra Beach
We went by two cars.
it was a warm weather.
we have fun on the beach
feel the open air
then we went to see some performance.
Dolphin and white whale or beluga
parrot, lingsang and hippo

Thank You LORD for this opportunity
to share our happy moment together