MOS Buat Yunior Tahun1

Senin, 08 Agustus 2011


Tiap komunitas punya kisah unik. Salah satunya adalah kisah MOS khusus buat suster yunior tahun1. Entah bagaimana, tetapi setip yunior tahun 1 yang datang ke komunitas Jl Pos, pasti dapat kejutan di minggu pertama ia atau mereka hadir. Jadi, tak heran saat Sr.Yuli tiba di komunitas Jl Pos, ia pun mendapat kejutan. MOS yang "seru" dari Tuhan. Ini kisahnya:
Tak dapat saya bayangkan, bahwa di tengah maraknya MOS(Masa Orientasi Sekolah) untuk para siswa/siswi atau pun mahasiswa, ternyata masih juga saya alami di saat awal saya memasuki masa yuniorat tahun pertama ini. Tak disangka, di saat hadir di komunitas baru (Jalan Pos), hari kedua, saya telah ditinggal oleh para suster-suster muda, karena mereka beranjak ke Tawangmangu, untuk mengikuti retret 8 hari. Bagai HP yang perlu dicash, mereka pun juga membutuhkan kesempatan untuk menge-cash spiritualitas hidup rohani mereka.

 Kembali pada kisah MOS (Masa Orientasi Susteran) yang saya alami. Meskipun hari ketiga saya menempati komunitas Jalan Pos, bertepatan dengan hari ulang tahun saya, namun sungguh menjadi kenangan yang tak terlupakan, karena di hari bahagia itu, saya pun mulai ditempa untuk sungguh siap dan mau beradaptasi dengan lingkungan baru, tak ketinggalan dengan segala tugas yang telah diamanatkan oleh Kakak-kakak Suster, yang berangkat retret. Bagai seorang anak yang memasuki sekolah baru yang asing, saya pun mulai bertanya  dan bertanya, serta melihat pembiasaan sekeliling. Saya bersyukur bahwa  Tuhan mengutus banyak orang Samaria yang baik hati, yang hadir dalam diri para Suster-suster sepuh. Mereka dengan caranya masing-masing, setia dalam  membimbing saya, setiap kali saya membutuhkan petunjuk. Meskipun saya berada  di tengah-tengah suster yang sepuh, yang mungkin kalau dihitung umur, saya  pantas menjadi cucu bagi mereka, namun semangat mereka baik dalam pelayanan  maupun hidup doa, tidak kalah dibandingkan suster yang muda. Kesetiaan  untuk hadir dalam ibadat harian, misa dan juga doa rosario, menjadikan saya  pun turut tersemangati. 

Syukur tak henti-hentinya saya panjatkan pada Tuhan,  karena pengalaman pembentukan di Novisiat sungguh telah membekali saya untuk  siap di komunitas karya yang nyata. Teringat oleh saya akan tanaman cabe  yang saat retret agung(Januari 2010) saya tanam, namun baru berbuah satu  tahun kemudian, itu pun setelah beberapa tanaman yang ada pada satu pot,  saya pisahkan. Sepertinya Tuhan telah menunjukkan suatu simbol, bahwa tanaman cabe itu pun bagai diri saya, yang semula dibentuk bersama di Novisiat bersama teman-teman seangkatan (Sr.Dominic, Sr.Melly, Sr.Sinta, Sr.Tere), dan pada saat perutusan diutus ke tiga komunitas : Juanda, Otista,  dan Jalan Pos. Menjadi suatu kesempatan yang benar-benar membahagiakan  sekaligus menantang, karena saat yang lain diutus berdua-dua, saya seorang diri  menuju ke Jalan Pos. Namun satu keyakinan yang selalu menjadi pegangan  saya"Dia yang memanggil adalah setia, maka Dia pun akan selalu setia menemani saya di mana pun saya diutus"


Pengabdian Cinta Sang Burung

Rabu, 03 Agustus 2011

Ditulis oleh Nenglya pada 08 Mar, 2011 | Kategori: Nice Story

Adalah seekor burung betina terkapar di jalanan dengan kondisi tubuh yang parah.

Dalam ketidakberdayaannya, ia selalu mendapat dukungan dari si jantan 
yang datang dan membawakan makanan untuknya



Burung jantan itu dengan setia menunggui betinanya, sampai akhirnya si betina terkulai. 
Si jantan berusaha membangungkan pasangannya dengan cara mematuk dan terbang di sekitarnya.





Dalam kesedihan dan keputusasaan, si jantan mulai mencicit seolah berteriak 
memanggil betinanya untuk kembali sadar.




Namun betinanya tetap terkulai dan tidak bangun lagi.
Burung jantan itu pun menceracap seolah menangisi pasangannya yang mati




Dan si jantan dengan setia terus menunggui pasangannya yang sudah tak bernyawa





Adakah kita, manusia dapat setia pada pasangan kita seperti burung itu?

Kenalan Dengan Santa Angela

Pagi itu di aula SD Santa Maria ada yang berbeda. Biasanya yang hadir siswa-siswi berukuran mungil. Sekali ini ruang di lantai dua itu diisi oleh remaja putra dan putri yang berukuran lebih jumbo. Mereka berjalan tenang, cepat, diiringi sedikit keramaian dalam celoteh riang yang membangkitkan semangat. Sr.Magriet, Sr.Yenny, Sr.Grace dan beberapa guru nampak hadir di ruangan tersebut.
Memastikan semua peralatan dan sarana seperti LCD, CD player dan soundystem serta tata ruang sudah siap untuk dipakai.
Sadar bersikap: buah karya para suster dan guru di S.Maria sejak TK sampai SMK.

Para remaja itu adalah putra-putri kelasX SMK Santa Maria. Mereka segera mengisi absen dan langsung menyerahkan telepon genggam mereka pada petugas. Menyenangkan sekali melihat proses kesadaran bersama seperti mengisi absen dan pengumpulan HP sudah berjalan tanpa perlu diingatkan lagi. Lelah kerja keras para guru dari jenjang sebelumnya seperti TK, SD dan SMP terasa berbuah di tingkat SMK. Petugas pun tak kalah sigap. Jika melihat ada teman yang masih mencari HP dalam tas, maka mereka mendekat seraya menyorongkan kotak tempat HP. "Taro disini aja," ujar mereka, lalu kembali berkeliling mengunjungi teman-teman yang belum menyerahkan HP. Sikap melayani yang mengharukan.
Setelah itu seluruh rangkaian kegiatan dimulai. Sr.Ingrid menyediakan waktu untuk menyapa. Guru-guru pun hadir secara bergantian untuk mendengar sekaligus mengungkapkan dukungan juga bersiap diri jika dibutuhkan. Acara Angela Session yang dibawakan oleh Sr. Magriet berjalan lancar. Siapa sangka, anak remaja yang sedang doyan-doyannya memperhatikan diri sendiri sungguh dapat diajak berkenalan lebih dalam dengan Santa Angela.
Sr.Magriet: "supaya semangat, kita nyanyi bersama dulu,"
"saya nyanyi solo ya Suster,"

Terutama mengenai sikap Angela yang berani setia dalam menjalani pilihan yang ditawarkan Allah kepadanya. "Jadi, kalian sebagai siswa-siswi SMK, juga perlu meneladani Santa Angela yang tekun dan komitmen dalam menjalani pilihannya." kata Sr.Margriet. "Tidak ada yang dipaksa untuk masuk ke SMK-kan?" tanya Sr.Margriet sambil tersenyum menggoda. Wajah-wajah sumringah pun muncul seiring beberapa kepala menggeleng atau cetusan lembut, "Nggakkkkk...."
Lalu mereka diundang untuk semakin meneladani Santa Angela lewat berbagai sarana. Mulai dari doa, lagu, dinamika kelompok, membaca teks dari buku Kata-Kata Santa Angela sampai menyalin teks yang berkesan dengan tangan kiri. "asyik suster." kata seorang siswa "Mulanya agak aneh sama susah, tapi lama-lama seru juga," katanya sambil tersenyum lalu kembali menulis.
menulis dengan tangan kiri, lebih seru dan fokus pastinya!!!

Dan dipenghujung hari, terasa semangat siswa-siswi SMK semakin mengental. Berkenalan dengan Santa Angela yang manis, dinamis dan teguh membuat mereka ikut jadi pribadi yang manis, semangat dan percaya diri. "Siapa tahu, nanti saat suster jalan di pertokoan, ada restauran besar ehhhhh ternyata milik salah satu diantara kalian!" kata Sr.Margriet. "Horeeee!! iya!!! Iya!!!!" sambut mereka sambil tepuk tangan.
Yah, siapa yang tahu rencana Allah?
Mereka yang sekarang masih duduk belajar di SMK Santa Maria, kelak membawa semangat Santa Angela yang teguh dan setia dalam mengambil pilihan sampai pada berkarir dan berkarya di masyarakat. Doakan ya!!!
SMK S.Maria: GO!GO!GO!.....

77 by Sr.Benigna

Senin, 01 Agustus 2011

Hip! Hip! Huraaaa!!!!!
Sungguh menjadi kesempatan yang membahagiakan, di saat sebagai yunior baru,
kami bertiga (Sr.Tere, Sr.Shinta, dan saya), diberi kesempatan oleh komunitas masing-masing
turut menghadiri perayaan penuh syukur dari Sr.Benigna yang berulang tahun ke 77.
Bukan masalah misanya yang megah dengan bahasa Inggris, ataupun iringan paduan suara
dari anak-anak Panti Vincentius Putri yang merdu; tetapi yang menjadikan sangat berkesan adalah sharing dari setiap pribadi yang merasakan sentuhan, sapaan, asuhan, bimbingan juga dukungan doa dari seorang Suster yaitu Sr.Benigna.
Menjadi semakin menarik saat Sr.Benigna meminta waktu sebentar sebelum acara berakhir.
Tidak banyak yang beliau sampaikan selain "Terima kasih atas kehadiran para undangan, juga kerabat bahkan
yang dari Belanda, yang menyempatkan untuk hadir."
Di saat ada salah seorang kerabat mohon doa dari Sr.Benigna. Jawaban beliau begitu sederhana"Saya doakan selalu dalam hati, meskipun tidak terdengar suaranya".
Ungkapan ini sungguh menjadikan saya belajar dan menimba akan pemaknaan doa sebagai hubungan yang begitu dekat dengan Dia, Sang Maha Tahu, yang ada dekat dalam hati.
Sangat menarik pula saat mendengar sharing pengalaman dari para suster yang hadir.  Apalagi ternyata mereka yang bersharing adalah anak-anak bimbingan Suster Benigna sewaktu beliau menjadi magistra di Novisiat Ursulin. 
Salah satu yang membahagiakan  adalah kenyataan bahwa sekarang diantara mereka banyak yang menjadi pemimpin-pemimpin komunitas. Misalnya Sr.Lidya; Sr.Ingrid (Piko Ursulin Santa Maria Jakarta); dan Sr.Madeleine (Piko Ursulin Santa Ursula Jakarta). Tidak ketinggalan Provinsial kita, Sr.Edith Watu, termasuk juga mengalami didikan beliau lho ...
Sr.Benigna bersama para suster yang dibimbingnya
Ketika mendengar sharing dari para suster, Sang Pestawati hanya tersenyum, tersipu malu, antara rasa bangga dan terharu karena Tuhan masih memberikan kesempatan padanya untuk menyaksikan hasil dari persemaian benih yang dulu telah Tuhan percayakan kepadanya untuk diolah.
Terbayang dalam lamunan saya "Tuhan...terima kasih karena lewat kesempatan ini, saya boleh belajar suatu nilai sikap kerendahan hati dari Sr.Benigna, yang memaknai apa yang dilakukannya sebagai perpanjangan tangan Allah". Kata- kata Yohanes Pembaptis "Biarlah Dia semakin besar dan aku semakin kecil", seakan terasa sungguh nyata dalam diri Sr.Benigna.
"Selamat Berbahagia Suster Benigna...
Semoga keteladanan Suster dalam pelayanan karya dan doa,
dapat kami lanjutkan dan terus kami hidupi sebgai suster-suster yunior ursulin...
Sehingga akan menumbuh-kembangkan Benigna-benigna yang lain ....
Happy B'Day Sr.Benigna.

(Kisah Sharing Sr.Yuli/ Komunistas Jl Pos)

What Would You Do?

Selasa, 26 Juli 2011

Kisah panjang yang indah dan inspiratif
Kisah ini membuka kembali lembar persahabatan diantara kita,
Setelah sekian lama ursulinePost tak mengunjungi anda,
salam kasih Kristus Yesus bagi kita semua.


Dua pilihan
mana yang akan kau pilih?
engkau dapat membuat pilihan.
tidak ada tanda pun arah, karena itu memang tak ada
baca sajalah.
dan pertanyaanku adalah: apakah engkau akan membuat pilihan yang sama?


Dalam sebuah  acara makan malam pengumpulan dana untuk sekolah yang melayani anak dengan kebutuhan khusus, ayah dari seorang siswa menyampaikan pidato yang tak terlupakan oleh mereka yang hadir. Setelah menyampaikan penghargaan atas kerja keras dan dedikasi dari sekolah serta para guru dan karyawan, ia mengajukan sebuah pertanyaan: "Ketika tidak ada pengaruh dari luar, segala sesuatu berjalan begitu alamiah, dan itu terjadi dalam kesempurnaan. Dan putra saya, Shay, tidak dapat belajar seperti anak pada umumnya. Ia tak dapat mengerti berbagai hal seperti anak lain. Dimana proses alamiah itu terjadi dalam putra saya?


Para hadirin dipenuhi dengan pertanyaan.


Sang ayah melanjutkan, "Saya percaya saat seorang anak seperti Shay, yang mengalami cacat mental dan fisik, hadir di dunia, sebuah kesempatan untuk menyadari sifat alamiah manusia akan muncul dengan sendirinya; dan hal itu dapat muncul dari bagaimana orang lain bersikap pada anak tersebut."

Lalu ia menceritakan kisah ini:

Shay dan saya berjalan melewati lapangan rumput dimana sejumlah anak laki sedang bermain baseball. Shay bertanya "Menurut ayah, apakah mereka akan mengijinkan aku ikut bermain?" Saya tahu, pada umumnya tak ada anak lelaki yang bersedia membiarkan seorang anak seperti Shay bermain dalam tim mereka; tetapi sebagai seorang ayah, saya juga memahami bahwa seandainya putra saya bisa ikut bermain, itu akan memberikannya sebuah rasa memiliki dan percaya diri karena ia diterima oleh anak lain tanpa memandang kecacatannya.

Saya mendekati salah satu anak lelaki di lapangan dan bertanya (tanpa terlalu berharap): apakah Shay dapat ikut bermain. Anak lelaki itu melihat dan berkata "Kita kalah enam angka, sekarang sedang diputaran ke delapan, saya kira ia bisa main dalam tim kami; dan kita coba memasukannya pada putaran ke sembilan."

Shay berjalan dengan susah payah menuju bangku tim-nya; lalu dengan senyum lebar, ia mengenakan kaos tim. Saya memandangnya dengan setitik air mata dan rasa hangat di hati. Anak-anak lelaki itu melihat kebahagiaan saya karena putraku diterima oleh mereka.

Dipenghujung putaran ke delapan, tim Shay berhasil memenangkan sejumlah skor tapi tetap tertinggal tiga angka.

Saat putaran ke sembilan, Shay mengenakan sarung tangan dan bermain di sayap kanan. Walau tidak ada bola yang menuju padanya, tampak jelas ia bergairah dengan hanya berada di dalam lapangan permainan. Ia tersenyum lebar saat saya melambai dari tempat duduk.

Di penghujung putaran ke sembilan, tim Shay berhasil memenangkan skor lagi

Sekarang, dengan dua pemain keluar dan di base sudah penuh dengan pemain, kemungkinan untuk menang sudah didepan mata. Shay dijadwalkan untuk menjadi pemukul berikutnya. Dalam situasi ini, apakah mereka membiarkan Shay menjadi pemukul dan artinya membiarkan kemungkinan mereka untuk menang pun melayang.

Mengejutkan, Shay diberikan tongkat pemukul. Semua orang tahu bahwa ia tak mungkin dapat memukul bola karena memegang tongkat pemukul saja tak bisa.

Walau begitu, saat Shay berdiri pada posisi pemukul, Sang Pelempar (pitcher) bola sadar bahwa ia perlu mengesampingkan kemenangan tim-nya sesaat demi Shay. Sang pelempar bola maju beberapa langkah dan melempar bola dengan lembut sehingga Shay dapat memukul bola itu.

Lemparan pertama datang dan Shay mengayunkan pemukul. Bolanya lolos. Sang Pelempar kembali maju beberapa langkah lalu melambungkan bola dengan lembut ke arah Shay. Bola kedua datang, Shay mengayunkan pemukulnya dan bola terpukul lalu memantul pelan ke tanah.

Permainan dapat berhenti.

Sang Pelempar bisa memungut bola dan dengan mudah melemparnya pada penjaga base pertama.
Shay dapat dikeluarkan dan itu adalah akhir dari seluruh permainan..

Akan tetapi, Sang Pelempar memilih untuk melemparkan bola itu jauh di atas kepala penjaga base pertama, di luar jangkauan teman-teman satu tim-nya.

Semua orang pun bangkit dari tempat duduk dan kedua tim mulai berteriak, "Shay, lari ke base satu, lari ke base satu!"

Tak pernah dalam hidupnya, Shay berlari sejauh itu, tetapi ia berhasil sampai ke base pertama.

Ia jatuh terduduk di garis base pertama, matanya terbuka lebar dan ia memandang takjub.

Semua orang berteriak, " Lari ke base dua, base dua!" dengan napas terengah-engah, Shay berlari menuju base dua. Ia berjuang agar tiba di sana.

Saat itu, penjaga sisi kanan lapangan mendapat bola. Anak yang paling kecil dalam tim mereka dan sekarang ia mendapat kesempatan untuk menjadi pahlawan bagi tim-nya.
Ia dapat melempar bola ke penjaga base dua sehingga permainan selesai karena Shay masih duduk di base dua. Tetapi anak kecil itu paham dengan niat Sang Pelempar bola. Maka, ia dengan sengaja melempar bola begitu tinggi dan jauh dari jangkauan penjaga base tiga.

Shay berlari menuju base ketiga. Ia lelah dan sulit berlari ke arah yang benar. Sementara semua berteriak "Shay, Shay, Shay!"

Shay mencapai base tiga karena penjaga lawan berlari menuju Shay dan membantunya berlari ke arah yang benar. Ia pun berteriak, "Lari ke base tiga, ke tiga!" Dan saat Shay tiba di base tiga, anak lelaki dari kedua tim dan penonton, berdiri sambil berteriak: "Shay berhasil, Shay berhasil!!"


Shay tiba di base akhir, dan meledaklah tepuk tangan bagi seorang pahlawan sebagaimana Shay menjadi pahlawan karena memenangkan tim-nya. "Hari itu," kata ayahnya pelan dengan air mata berlinang di pipi, "Anak lelaki dari kedua tim (menang karena) membawa cinta sejati dan kemanusiaan ke dalam dunia,"

Shay  tidak hadir lagi dalam musim panas berikut. Ia meninggal di musim dingin, dengan tanpa melupakan bahwa ia pernah menjadi pahlawan dan itu membuat saya sangat bahagia. Saat tiba di rumah,  ibunya menyambut pahlawan kecilnya dengan air mata.

DAN SEKARANG SEDIKIT CATATAN KAKI:
Kita semua mengirim ribuan lelucon lewat email tanpa berpikir panjang, tetapi saat akan mengirim pesan tentang pilihan hidup, kita umumnya berhenti dan berpikir. Hal-hal kasar, vulgar, seringkali lalu-lalang dengan bebas di dunia maya, tetapi diskusi terbuka tentang kepatutan seringkali terlewati di sekolah dan tempat kerja kita. Jika engkau berpikir untuk mengirim kembali pesan ini, kesempatan untuk memilah teman-teman tertentu saja, yang cocok, untuk menerima pesan seperti ini sebaiknya dihilangkan.
Orang yang mengirimkan pesan ini percaya bahwa kita dapat membuat perbedaan. Kita semua punya ribuan kesempatan, setiap hari, untuk membantu menyadari "hal-hal alamiah yang terjadi". Banyak tawaran yang disodorkan pada kita: apakah kita, mau mengambil pilihan dengan percikan cinta dan kemanusiaan atau kita membiarkannya berlalu sehingga dunia menjadi sedikit lebih dingin dalam seluruh prosesnya.

(Sharing kisah dari Pak Agus, guru SMP S.Ursula)


(English version)
A long but truly a lovely story !!!

Two Choices
What would you do?
you make the choice.
Don't look for a punch line, there isn't one.
Read it anyway.
My question is: Would you have made the same choice?

At a fund raising dinner for a school that serves children with learning disabilities, the father of one of the students delivered a speech that would never be forgotten by all who attended. After extolling the school and its dedicated staff, he offered a question:'When not interfered with by outside influences, everything nature does, is done with perfection. Yet my son, Shay, cannot learn things as other children do. He cannot understand things as other children do. Where is the natural order of things in my son?'

The audience was stilled by the query.

The father continued. 'I believe that when a child like Shay, who was mentally and physically disabled comes into the world, an opportunity to realize true human nature presents itself, and it comes in the way other people treat that child.'

Then he told the following story:

Shay and I had walked past a park where some boys Shay knew were playing baseball. Shay asked, 'Do you think they'll let me play?' I knew that most of the boys would not want someone like Shay on their team, but as a father I also understood that if my son were allowed to play, it would give him a much-needed sense of belonging and some confidence to be accepted by others in spite of his handicaps.

I approached one of the boys on the field and asked (not expecting much) if Shay could play. The boy looked around for guidance and said, 'We're losing by six runs and the game is in the eighth inning. I guess he can be on our team and we'll try to put him in to bat in the ninth inning.'

Shay struggled over to the team's bench and, with a broad smile, put on a team shirt. I watched with a small tear in my eye and warmth in my heart. The boys saw my joy at my son being accepted.

In the bottom of the eighth inning, Shay's team scored a few runs but was still behind by three.

In the top of the ninth inning, Shay put on a glove and played in the right field. Even though no hits came his way, he was obviously ecstatic just to be in the game and on the field, grinning from ear to ear as I waved to him from the stands.

In the bottom of the ninth inning, Shay's team scored again.

Now, with two outs and the bases loaded, the potential winning run was on base and Shay was scheduled to be next at bat.At this juncture, do they let Shay bat and give away their chance to win the game?

Surprisingly, Shay was given the bat. Everyone knew that a hit was all but impossible because Shay didn't even know how to hold the bat properly, much less connect with the ball.

However, as Shay stepped up to theplate, the pitcher, recognizing that the other team was putting winning aside for this moment in Shay's life, moved in a few steps to lob the ball in softly so Shay could at least make contact.

The first pitch came and Shay swung clumsily and missed.The pitcher again took a few steps forward to toss the ball softly towards Shay.

As the pitch came in, Shay swung at the ball and hit a slow ground ball right back to the pitcher.

The game would now be over.

The pitcher picked up the soft grounder and could have easily thrown the ball to the first baseman.

Shay would have been out and that would have been the end of the game.

Instead, the pitcher threw the ball right over the first baseman's head, out of reach of all team mates.

Everyone from the stands and both teams started yelling, 'Shay, run to first!Run to first!'

Never in his life had Shay ever run that far, but he made it to first base.

He scampered down the baseline, wide-eyed and startled.

Everyone yelled, 'Run to second, run to second!'Catching his breath, Shay awkwardly ran towards second, gleaming and struggling to make it to the base.

By the time Shay rounded towards second base, the right fielder had the ball . the smallest guy on their team who now had his first chance to be the hero for his team.

He could have thrown the ball to the second-baseman for the tag, but he understood the pitcher's intentions so he, too, intentionally threw the ball high and far over the third-baseman's head.

Shay ran toward third base deliriously as the runners ahead of him circled the bases toward home.All were screaming, 'Shay, Shay, Shay, all the Way Shay'

Shay reached third base because the opposing shortstop ran to help him by turning him in the direction of third base, and shouted, 'Run to third!Shay, run to third!'As Shay rounded third, the boys from both teams, and the spectators, were on their feet screaming, 'Shay, run home! Run home!'

Shay ran to home, stepped on the plate, and was cheered as the hero who hit the grand slam and won the game for his team'That day', said the father softly with tears now rolling down his face, 'the boys from both teams helped bring a piece of true love and humanity into this world'.

Shay didn't make it to another summer. He died that winter, having never forgotten being the hero and making me so happy, and coming home and seeing his Mother tearfully embrace her little hero of the day!

AND NOW A LITTLE FOOT NOTE TO THIS STORY:
We all send thousands of jokes through the e-mail without a second thought, but when it comes to sending messages about life choices, people hesitate.The crude, vulgar, and often obscene pass freely through cyberspace, but public discussion about decency is too often suppressed in our schools and workplaces.If you're thinking about forwarding this message, chances are that you're probably sorting out the people in your address book who aren't the 'appropriate' ones to receive this type of message Well, the person who sent you this believes that we all can make a difference.We all have thousands of opportunities every single day to help realize the 'natural order of things.'So many seemingly trivial interactions between two people present us with a choice:Do we pass along a little spark of love and humanity or do we pass up those opportunities and leave the world a little bit colder in the process?

-priska natasya-

Sr Anna dalam Kenangan

Selasa, 07 Juni 2011


Waktu terus berjalan.
Tak terasa sudah tujuh hari Sr.Anna menghadap Bapa.
Untuk mengenang dan mendoakan kebahagiaan jiwa suster Anna, hari ini (7/6) Sr. Yos, Sr. Cecile dan Sr.Agnes berangkat ke Selapajang.Mereka akan berdoa dan menabur bunga.


Masih terkenang sosok Sr.Anna yang periang dan suka tertawa, seperti diungkap oleh Rm. Santo, Pr dalam misa arwah beberapa waktu yang lalu. Misa yang dilakukan secara sederhana dan dihadiri oleh semua orang yang mengenal dan mencintai Sr.Anna.



Bahkan semua anggota Legio Maria Pintu Surga dari Katedral yang pernah menerima banyak bimbingan dari Sr.Anna pun tampak hadir. "Suster Anna adalah seorang suster yang baik dan selalu memperhatikan kami," kata mereka.

Legio Maria Presidium Pintu Surga Katedral

 Selain itu Sr.Anna dalam kenangan Rm.Herman adalah sebagai pribadi suka berbagi. "Saya mendapat handuk dari suster Anna," kisahnya dalam homili yang disambut senyum oleh umat. Handuk itu diberikan begitu saja tanpa dibungkus.Ternyata, kepolosan dan spontanitas itu mampu menimbulkan rasa haru tersendiri. "Saya senang dapat handuk itu, terlebih lagi dengan sikap suster Anna yang apa adanya," lanjut Rm.Herman.

Romo Suherman
Pemberkatan di pemakaman pun berjalan dengan lancar dan khidmat. Bahkan sempat tercetus: "Para suster kita ini pada baik ya, sampai meninggal pun mencari waktu libur sehingga tidak merepotkan banyak orang.". Hal ini sebuah kenyataan yang menarik untuk direnungkan karena begitulah adanya. Setiap suster di jalan pos yang berpulang ke surga selalu bertepatan dengan hari libur.
Rm Santo, PR: berkat Tuhan di pemakaman.

Mendengar berbagai kenangan indah dan manis dari mereka yang mengenal Sr.Anna, membuat kita patut merenungkan kembali. Apa kenangan mereka tentang saya?




Semoga sama seperti Sr.Anna, kita boleh dikenang sebagai pribadi yang membawa kebahagiaan bagi orang di sekitar kita. Dan sambil menunggu waktu kita dari Tuhan, mari kita terus berziarah dalam hidup dengan semangat dan gembira.

Perziarahan Hidup

Ucapan Terima Kasih

Jumat, 03 Juni 2011

Kepada yang terkasih Sr. Edith Watu, OSU dan Para Suster Ursulin Provinsi Indonesia;
Kami mengucapkan terima kasih untuk dukungan, cinta, doa dan perhatian, khususnya di hari berbahagia kami pada hari Minggu, 15 Mei 2011, dalam Perayaan Ekaristi Pesta Perak 25 tahun Hidup Membiara kami.

Salam dan doa dari kami :
Sr. Lidwina Mariani, OSU
Sr. Renate Maramis, OSU
Sr. Marie Elise Sumiwi, OSU
Sr. Reinilda Wuga, OSU
Sr. Wilma Haniman, OSU
Sr. Josephine Sukawit, OSU
Sr. Leoni Haryati, OSU


(Foto di atas ini, dari ki-ka : Sr. Wilma, Sr. Reinilda, Sr. Marie Elise, Sr. renate, Sr. Lidwina)


(ki-ka : Sr. Renate dan Sr. Leonie)